CYBERNEWS | JOMBANG – Di balik suasana yang terlihat tenang saat ini, kawasan Greenhouse Krisna Sejahtera yang dikelola oleh BUMDes Trisno Sejahtera di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, sebenarnya sedang disiapkan untuk berkembang lebih besar. Pemerintah Desa Mojotrisno memiliki rencana jangka panjang agar kawasan greenhouse dan taman desa tersebut tidak hanya menjadi tempat budidaya melon, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata desa yang menarik bagi masyarakat.
Kepala Desa Mojotrisno, Nanang, menjelaskan (27/04) bahwa pengembangan kawasan greenhouse ini memang menjadi salah satu fokus pembangunan desa ke depan. Menurutnya, program ini tidak sekadar tentang pertanian, tetapi juga tentang bagaimana desa bisa menciptakan ruang wisata yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, benar. Kawasan greenhouse ini memang menjadi salah satu fokus pengembangan desa. InsyaAllah pada tahun 2027 sampai 2029 nanti kawasan ini akan kita dorong menjadi salah satu destinasi wisata desa,” ujar Nanang.
Ia menuturkan bahwa lokasi greenhouse yang berdampingan dengan taman desa menjadi potensi yang sangat baik untuk dikembangkan. Taman tersebut dapat menjadi ruang rekreasi sederhana bagi masyarakat, khususnya keluarga yang ingin menikmati suasana desa yang sejuk dan tenang.
Menurut Nanang, konsep yang ingin dibangun adalah menghadirkan tempat wisata desa yang sederhana namun menyenangkan bagi keluarga. Orang tua bisa bersantai, sementara anak-anak bisa bermain di taman yang berada di samping greenhouse.
“Kami ingin tempat ini bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang rekreasi keluarga. Orang tua bisa duduk santai, anak-anak bisa bermain di taman yang ada di samping greenhouse. Jadi tempat ini tidak hanya untuk pertanian, tetapi juga menjadi ruang berkumpul masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mengajak masyarakat, khususnya warga Mojoagung dan daerah sekitar, untuk datang dan menikmati suasana wisata desa tersebut.
“Kami mengajak masyarakat Mojoagung dan sekitarnya untuk datang berkunjung. Silakan datang bersama keluarga, menikmati taman desa yang banyak Gazebo, dan melihat langsung greenhouse melon yang ada di sini,” tambahnya.
Meski demikian, Nanang mengakui bahwa saat ini jumlah pengunjung memang tidak seramai saat masa panen melon. Hal tersebut, menurutnya, merupakan kondisi yang wajar karena daya tarik utama wisata tersebut biasanya meningkat ketika musim panen tiba.
“Memang saat ini pengunjung agak menurun. Itu karena masa panen melon sudah selesai. Biasanya pengunjung akan kembali ramai saat musim panen berikutnya,” katanya.
Namun kondisi tersebut justru menjadi bahan evaluasi bagi BUMDes pemerintah desa untuk menyiapkan strategi agar kawasan ini tetap hidup dan menarik sepanjang tahun.

Salah satu langkah yang direncanakan pemerintah desa adalah menambah greenhouse baru di kawasan tersebut. Rencananya, greenhouse tambahan akan dibangun di sebelah selatan dari greenhouse yang sudah ada saat ini.
Menurut Menang, greenhouse yang baru nantinya akan dibuat dengan konstruksi yang lebih kuat dan lebih permanen dibandingkan greenhouse yang ada sekarang.
“Sebenarnya Ke depankebutuhan kami satu greenhouse lagi di sebelah selatan. Kalau yang sekarang masih menggunakan bambu, yang sudah tidak di gunakan mau ambyuk (Rusak) yang baru nanti inginya akan dibuat lebih kuat dan lebih permanen,” jelasnya.
Rencana kebutuhan Penambahan greenhouse ini tidak hanya bertujuan menambah kapasitas produksi melon, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan aktivitas wisata di kawasan tersebut.
Dengan adanya dua greenhouse, sistem budidaya melon dapat dilakukan secara bergantian. Ketika satu greenhouse memasuki masa panen, greenhouse lainnya bisa berada pada tahap pembibitan atau penanaman.
“Kalau nanti ada dua greenhouse, maka sistemnya bisa bergantian. Ketika satu greenhouse panen, greenhouse yang satunya sedang proses pembibitan. Setelah itu nanti berganti lagi,” terang Nanang.
Dengan sistem seperti itu, aktivitas di kawasan greenhouse diharapkan bisa terus berjalan sepanjang triwulan.
“Harapannya nanti kawasan ini tetap hidup sepanjang waktu. Jadi tidak hanya ramai saat panen saja, tetapi selalu ada kegiatan di greenhouse maupun taman desa,” tambahnya.
Selain pengembangan greenhouse melon, pemerintah desa juga mulai menanam berbagai jenis tanaman buah di sekitar kawasan tersebut. Langkah ini dilakukan agar wisata yang dikembangkan tidak hanya bergantung pada satu komoditas saja.
Nanang menyebutkan bahwa di kawasan sebelah barat lokasi greenhouse telah ditanam cukup banyak pohon kelengkeng. Sementara di area yang berdekatan dengan greenhouse juga mulai ditanam pohon alpukat.
Menurutnya, pengembangan berbagai tanaman buah ini bertujuan agar musim panen dapat berlangsung secara bergantian sepanjang tahun.
“Di sebelah barat itu kami sudah menanam cukup banyak pohon kelengkeng. Lalu di samping greenhouse juga kita tanami pohon alpukat. Harapannya nanti dalam satu atau dua tahun ke depan panennya bisa bergantian,” ujar Nanang.
Dengan konsep tersebut, wisata petik buah di Desa Mojotrisno nantinya tidak hanya berlangsung pada satu waktu saja, tetapi bisa hadir dalam beberapa musim panen yang berbeda.
Ia menggambarkan kemungkinan pola panen yang dapat terjadi jika semua tanaman sudah mulai berproduksi.
“Misalnya nanti bulan Januari pengunjung bisa petik buah kelengkeng, lalu bulan Maret bisa petik buah alpukat, kemudian sekitar bulan Juni bisa petik buah melon, dan di akhir tahun bisa panen melon lagi,” jelasnya.
Menurut Menang, konsep estafet panen seperti ini akan memberikan banyak variasi bagi pengunjung yang datang.
“Semua komoditas yang kita tanam ini diupayakan bisa estafet. Jadi selalu ada yang bisa dinikmati pengunjung,” tambahnya.
Dengan adanya variasi tanaman tersebut, kawasan ini diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi wisata petik buah yang menarik bagi masyarakat.
Pada akhirnya, seluruh upaya yang dilakukan oleh pemerintah desa dan BUMDes Trisno Sejahtera ini bermuara pada satu tujuan besar: menjadikan kawasan greenhouse dan taman desa sebagai destinasi wisata desa yang mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Nanang, jika konsep wisata petik buah ini berjalan dengan baik, maka bukan hanya pengunjung yang mendapatkan pengalaman wisata, tetapi desa juga dapat memperoleh tambahan pendapatan.
“Harapan kami tentu kawasan ini bisa berkembang menjadi destinasi wisata desa yang memberikan manfaat ekonomi bagi desa. Kalau pengunjung datang, maka desa juga mendapatkan pendapatan yang bisa digunakan untuk pembangunan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pengembangan kawasan ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik dari masyarakat, pemerintah daerah, maupun pemerintah pusat.
“Kami tentu berharap ada dukungan dari masyarakat, dari pemerintah daerah, maupun dari pemerintah pusat agar pengembangan desa seperti ini bisa terus berjalan,” ujarnya.
Pemerintah desa sendiri berkomitmen untuk terus merawat fasilitas yang sudah ada serta mengembangkan potensi yang dimiliki desa secara bertahap.
“Kami akan terus berupaya merawat dan mengembangkan kawasan ini. Alhamdulillah saat musim panen kemarin pengunjungnya sangat ramai. Itu menjadi semangat bagi kami untuk terus melangkah ke depan,” tutup Nanang.
Dari sebuah greenhouse sederhana di Desa Mojotrisno, perlahan tumbuh sebuah gagasan besar: menghadirkan wisata desa berbasis pertanian yang hidup sepanjang tahun, dengan panen yang datang bergantian dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Langkah kecil dari desa, yang pelan namun pasti, sedang menanam harapan untuk masa depan yang lebih mandiri.
(*)
Penulis: Baret Mega Lanang
















