CYBERNEWSIND | JOMBANG – Bulan suci Ramadan menjadi momen yang dinantikan umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa. Namun bagi ibu hamil, menjalankan puasa tentu memerlukan perhatian khusus agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga. Hal tersebut menjadi topik utama dalam program dialog kesehatan “Humas RSUD Jombang Menyapa” yang menghadirkan narasumber dr. Sulistiowati, SpOG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi di RSUD Jombang.
Dalam perbincangan yang dipandu oleh host Dianita Prayoga tersebut, dr. Sulistiowati menjelaskan bahwa pada prinsipnya ibu hamil diperbolehkan menjalankan puasa, namun harus memenuhi beberapa syarat penting. Ia menegaskan bahwa kondisi kesehatan ibu dan janin harus benar-benar baik serta tidak termasuk dalam kategori kehamilan berisiko tinggi.
“Secara medis ibu hamil boleh berpuasa, tetapi dengan catatan. Yang pertama, kehamilannya harus risiko rendah. Kedua, kondisi ibu dan janin harus sehat. Kalau dua-duanya dalam kondisi baik, maka puasa boleh dilakukan,” jelas dr. Sulistiowati.
Dokter yang baru bergabung di RSUD Jombang sejak awal tahun 2026 tersebut juga memaparkan bahwa kondisi setiap trimester kehamilan memiliki tantangan yang berbeda bagi ibu yang ingin menjalankan puasa. Pada trimester pertama, misalnya, banyak ibu hamil mengalami mual dan muntah yang dapat menyebabkan dehidrasi. Dalam kondisi tersebut, puasa tidak disarankan karena dapat memperburuk keadaan tubuh ibu.
Sementara itu, trimester kedua dinilai sebagai periode yang relatif lebih stabil. Pada fase ini keluhan mual biasanya sudah berkurang, kondisi tubuh ibu lebih baik, serta kebutuhan nutrisi lebih mudah dipenuhi. Karena itu, mayoritas ibu hamil yang berpuasa biasanya berada pada trimester kedua.
Namun pada trimester ketiga, terutama menjelang persalinan, ibu hamil kembali perlu berhati-hati. Kebutuhan nutrisi janin meningkat dan produksi air ketuban harus tetap terjaga. Kekurangan cairan dapat berdampak pada berkurangnya volume air ketuban yang penting bagi perkembangan janin.
Selain memperhatikan usia kehamilan, dr. Sulistiowati juga mengingatkan bahwa ada beberapa kondisi medis yang membuat ibu hamil sebaiknya tidak berpuasa. Di antaranya adalah anemia, hipertensi dalam kehamilan, diabetes gestasional, serta riwayat kontraksi atau keluhan nyeri perut yang berulang.
“Kalau ibu hamil mengalami anemia dengan kadar hemoglobin rendah, tekanan darah tinggi, atau diabetes dalam kehamilan, sebaiknya tidak berpuasa. Kondisi-kondisi ini berisiko memperburuk kesehatan ibu maupun janin,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa anemia biasanya diketahui melalui pemeriksaan kadar hemoglobin. Apabila kadar hemoglobin berada di bawah angka 10 gram per desiliter, maka kondisi tersebut sudah termasuk anemia yang perlu mendapat perhatian medis. Sementara itu, risiko preeklamsia dapat dilihat dari tekanan darah yang meningkat di atas batas normal.
“Kalau tekanan darah sudah di atas 130 apalagi mendekati atau lebih dari 140, kita harus sangat waspada. Itu bisa menjadi tanda awal preeklamsia yang berbahaya bagi ibu dan bayi,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Sulistiowati juga mengingatkan pentingnya mencukupi kebutuhan cairan selama bulan puasa. Ibu hamil dianjurkan mengonsumsi sekitar dua liter cairan setiap hari. Dengan asumsi satu gelas berisi 250 mililiter, maka ibu hamil perlu minum sekitar delapan gelas air putih selama waktu berbuka hingga sahur.
Selain itu, pola makan saat berbuka juga perlu diperhatikan. Ia menyarankan agar ibu hamil tidak langsung mengonsumsi makanan atau minuman dengan kadar gula tinggi secara berlebihan.
“Kadang saat berbuka kita ingin minum yang manis-manis seperti es jendol atau minuman tinggi gula. Untuk ibu hamil sebaiknya dihindari. Asupan gula yang berlebihan secara mendadak bisa berdampak buruk bagi kondisi ibu maupun janin,” jelasnya.
Menurutnya, saat sahur ibu hamil sebaiknya mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, serta lemak sehat. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah lebih dianjurkan karena memberikan energi lebih lama dan tidak cepat menimbulkan rasa lapar. Sumber protein seperti telur, ayam, ikan, serta kacang-kacangan juga penting untuk menjaga kebutuhan nutrisi selama puasa.
Selain memperhatikan pola makan, ibu hamil juga perlu memantau kondisi janin secara rutin. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan di rumah adalah dengan memperhatikan gerakan janin setiap hari.
“Gerakan janin harus tetap normal. Ibu hamil perlu mengenali pola gerakan bayinya sendiri. Kalau gerakannya berkurang atau tidak seperti biasanya, itu perlu segera diperiksakan,” ujar dr. Sulistiowati.
Ia juga menyarankan ibu hamil untuk memperhatikan kondisi tubuhnya selama berpuasa. Apabila muncul keluhan seperti pusing, lemas berlebihan, jantung berdebar, atau merasa hampir pingsan, maka puasa sebaiknya segera dibatalkan.
Selain itu, kondisi cairan tubuh juga dapat dipantau melalui warna urine. Jika urine berwarna kuning jernih, berarti tubuh masih terhidrasi dengan baik. Namun jika warnanya menjadi pekat, hal tersebut menandakan tubuh kekurangan cairan dan puasa sebaiknya dihentikan.
“Air ketuban sangat bergantung pada kecukupan cairan ibu. Kalau ibu dehidrasi, produksi air ketuban bisa menurun dan itu tidak baik untuk janin,” tambahnya.
Lebih lanjut, dr. Sulistiowati mengingatkan bahwa dalam ajaran agama Islam sendiri ibu hamil sebenarnya tidak diwajibkan untuk berpuasa apabila kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Oleh karena itu, ia berharap para ibu tidak memaksakan diri menjalankan puasa apabila berpotensi membahayakan kesehatan.
“Dalam agama juga sudah dijelaskan bahwa ibu hamil tidak diwajibkan berpuasa. Jadi jangan memaksakan diri. Yang terpenting adalah menjaga kesehatan ibu dan janin,” tegasnya.
Melalui program “Humas RSUD Jombang Menyapa”, RSUD Jombang berharap masyarakat, khususnya para ibu hamil, dapat memperoleh informasi kesehatan yang akurat sehingga mampu menjalankan ibadah puasa dengan aman tanpa mengabaikan kesehatan diri dan bayi yang dikandung.
Dengan pemahaman yang tepat, puasa Ramadan tetap dapat dijalani secara sehat dan nyaman, sekaligus menjaga keselamatan ibu dan buah hati yang sedang berkembang di dalam kandungan. (*) (BRT)
















