CYBERNEWS | JOMBANG – Perjalanan kecil saya siang itu dimulai dari depan Puskesmas Mojoagung, Kabupaten Jombang. Dari titik itu, saya melanjutkan langkah ke arah selatan sekitar 300 meter. Jalan desa yang saya lalui terasa cukup tenang, dengan aktivitas masyarakat yang berjalan seperti biasa. (26/04)
Tidak ada rencana khusus dalam perjalanan tersebut. Awalnya hanya sekadar melintas sambil menikmati suasana desa yang masih terasa asri. Namun di tengah perjalanan, pandangan saya tertarik pada sebuah area yang tampak berbeda dari lingkungan di sekitarnya.
Di sisi jalan terlihat beberapa titik taman dengan penataan yang cukup menarik. Pepohonan terlihat rindang, sementara di dalam area tersebut tampak wahana bermain anak yang cukup sederhana namun tertata rapi.
Rasa penasaran membuat saya berhenti sejenak.
Saya kemudian melangkah masuk ke dalam taman bermain anak-anak yang berada di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung itu. Suasananya cukup nyaman. Di dalamnya terlihat beberapa fasilitas permainan seperti perosotan dan cungkit-cungkit yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain.
Taman tersebut terlihat cukup terawat. Beberapa gazebo kecil juga berdiri di sudut-sudut taman, seolah menjadi tempat singgah warga yang ingin beristirahat atau sekadar berbincang santai.
Namun perhatian saya kemudian tertuju pada sesuatu yang lain.
Di sebelah timur taman desa, tampak sebuah bangunan greenhouse berdiri cukup rapi. Dari kejauhan terlihat tulisan yang menunjukkan bahwa tempat tersebut merupakan unit usaha ketahanan pangan milik BUMDes Trisno Sejahtera Desa Mojotrisno.
Di area itu juga terpampang informasi yang menarik perhatian: wisata petik buah melon.
Saya kemudian mendekat untuk melihat lebih jelas. Greenhouse tersebut terlihat cukup baik penataannya. Struktur bangunan tertata rapi dan tampak terawat. Area di sekitarnya juga terlihat bersih dan tertib.
Konsep yang diusung cukup menarik, yaitu menghadirkan wisata petik melon yang memungkinkan pengunjung memetik buah langsung dari tanaman yang dibudidayakan di dalam greenhouse.
Namun saat saya datang, suasananya terlihat cukup tenang. Tidak tampak pengunjung yang sedang memetik buah.
Dari pengamatan sekilas, tampaknya memang masa panen sudah selesai. Beberapa tanaman terlihat sudah tidak lagi berbuah.
Untuk memastikan, saya mencoba berbincang dengan salah satu warga yang berada di sekitar lokasi.
Warga tersebut kemudian menceritakan bagaimana suasana tempat itu beberapa waktu lalu ketika musim panen berlangsung.
“Kemarin itu sebelum bulan puasa ada panen, Mas. Rame banget di sini. Banyak orang datang untuk lihat dan petik melon langsung,” ujarnya.
Menurutnya, suasana saat itu benar-benar ramai oleh pengunjung.
Keramaian bahkan berlanjut hingga setelah Hari Raya Idul Fitri.
“Terus sampai setelah Idul Fitri, sekitar satu minggu setelah Lebaran itu juga masih panen lagi. Mungkin gelombang kedua atau ketiga, saya juga kurang tahu pasti. Tapi memang benar-benar ramai, banyak pengunjung datang ke sini, sampai dipadati pengunjung,” lanjutnya.
Bagi masyarakat sekitar, keramaian tersebut menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan. Desa yang biasanya tenang mendadak dipenuhi pengunjung yang datang untuk menikmati wisata petik melon.
Namun saat ini, kawasan greenhouse memang sedang berada dalam masa persiapan untuk siklus berikutnya.
Warga tersebut menjelaskan bahwa pengelola kini sedang melakukan proses penanaman bibit baru.
“Kalau sekarang memang belum panen lagi, Mas. Ketohane terlihat masih proses penanaman bibit untuk regenerasi dari tanaman yang kemarin sudah dipanen,” katanya.
Artinya, aktivitas di greenhouse sebenarnya tetap berjalan. Tanaman-tanaman baru sedang dipersiapkan untuk panen berikutnya.
Jika proses budidaya berjalan lancar, masyarakat biasanya akan kembali menikmati musim panen pada beberapa bulan ke depan.
Bagi saya, perjalanan singkat dari depan Puskesmas Mojoagung menuju kawasan ini memberikan pengalaman yang cukup menarik. Di sebuah sudut desa yang sederhana, terdapat upaya nyata untuk mengembangkan ketahanan pangan sekaligus potensi wisata desa.
Perpaduan antara taman bermain anak dan greenhouse budidaya melon menciptakan ruang publik kecil yang hidup. Anak-anak dapat bermain, keluarga dapat bersantai, sementara di sisi lain kegiatan pertanian tetap berjalan.
Mungkin bagi sebagian orang tempat ini terlihat sederhana. Namun dari tempat seperti inilah sebenarnya lahir banyak harapan tentang bagaimana desa dapat berkembang melalui inovasi dan kreativitas.
Dan beberapa bulan lagi, ketika musim panen melon kembali tiba, kemungkinan besar kawasan ini akan kembali ramai oleh pengunjung yang ingin merasakan sensasi memetik buah melon langsung dari kebunnya.
Sebuah perjalanan kecil yang mengingatkan bahwa desa memiliki banyak potensi—tinggal bagaimana kita melihat dan merawatnya.
Sementara itu Pihak Terkait Kepala desa Belum bisa kami konfirmasi, untuk berita Lebih lanjut.
Penulis: Baret Mega Lanang
















