CYBERNEWSIND.COM || KETAPANG -Jalan berlubang di Desa Tanjung Baik Budi, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang kembali memakan korban. Seorang pengendara yang hendak pulang ke Satong mengalami kecelakaan tunggal pada Rabu, (28/05/2025) sore sekitar pukul 18:28 WIB setelah kendaraannya menghantam lubang besar yang sudah lama menghantui pengguna jalan.
Korban mengalami luka cukup serius dan langsung mendapat pertolongan dari warga yang berada di lokasi. Suasana panik pun menyelimuti tempat kejadian. Foto dan video yang tersebar menunjukkan korban tergeletak lemah, dikelilingi warga yang berusaha memberikan bantuan.

Yang menyakitkan, ini bukan kali pertama lubang tersebut menyebabkan kecelakaan. Warga menyebut bahwa lubang yang sama sudah berulang kali menjadi penyebab jatuhnya pengendara.
“Sudah ada orang Pontianak juga dulu jatuh di situ, luka-luka parah. Tapi pemerintah diam saja,” ungkap seorang warga dengan nada tinggi.
Keluhan warga bukan tanpa dasar. Seorang ibu yang ikut menyaksikan kejadian ini menyatakan bahwa sudah berkali-kali petugas datang ke lokasi dengan kendaraan dinas, hanya untuk memotret dan memberi tanda pada lubang, namun hingga kini belum ada perbaikan nyata.
“ Sudah enam kali lebih mereka datang, foto-foto saja, tapi lubang tetap menganga. Apa menunggu ada yang meninggal baru diperbaiki, ” katanya penuh amarah.
Nada yang sama juga disuarakan oleh warga lain yang kebetulan melintas di lokasi kejadian. Ia menyoroti lemahnya respon pemerintah dan menyarankan agar masyarakat menyampaikan langsung keluhan kepada Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri.
“Coba warga temui Pak Jamhuri. Beliau kan asli sini, lahir di Tanjung Baik Budi. Masak kampung sendiri dibiarkan rusak begini? Jalan kok lama sekali diperbaiki, padahal sudah makan korban berkali-kali,” tegasnya.
Kondisi jalan poros Sukadana–Ketapang yang menjadi urat nadi mobilitas warga dinilai sangat membahayakan. Minimnya perhatian pemerintah membuat warga khawatir akan jatuhnya korban berikutnya. Mereka mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan secara serius, bukan sekadar survei tanpa aksi.
“Jangan menunggu ada korban jiwa baru sibuk bergerak. Harga nyawa manusia tak bisa ditukar dengan tambalan aspal seadanya,” tutup salah satu tokoh masyarakat setempat. (CNI/red)
Kontributor : Rusli
Editor : Tim
Sumber Berita : Liputan
















