Nukila Evanty Tegaskan: “Ibu Rusmawati Berhak Carikan Pendamping Hukum” Sengketa Pulau Rempang

Jumat, 20 Juni 2025 - 271 views

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cybernewsind.com, Kepri – Polemik antara masyarakat Pulau Rempang dan Badan Pengusahaan (BP) Batam terkait rencana pembangunan Kawasan Ekonomi Rempang Eco City masih terus bergulir. Salah satu warga yang masih bersikeras menolak pembebasan lahannya adalah Rusmawati, warga Kampung Tanjung Banun, RT.001/RW.005.

Penolakan Rusmawati bukan tanpa dasar. Dalam surat pernyataan yang diterima wartawan pada Jumat (20/6/2025), Rusmawati menyampaikan bahwa lahan yang ia tempati bukan merupakan lahan garapan, melainkan lahan yang dibelinya secara sah seharga Rp100.000 per meter persegi. Ia menilai bahwa tawaran pembebasan lahan dari BP Batam terlalu rendah dan tidak mencerminkan nilai riil kepemilikan tanahnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) sekaligus Juru Bicara Persatuan Orang Melayu (POM) Batam, Nukila Evanty, memberikan pernyataan tegas. Aktivis yang telah aktif memperjuangkan hak masyarakat adat Rempang sejak 2023 ini menyebut bahwa kasus yang menimpa Rusmawati merupakan contoh nyata dari dampak marginalisasi akibat tekanan pembangunan ekonomi.

“Ibu Rusmawati itu gambaran korban yang dimarjinalkan karena desakan ekonomi. Beliau bersedia menyerahkan tanahnya, asalkan diberikan ganti untung yang layak. Ini bukan sekadar ganti rugi, tapi kompensasi yang adil di atas nilai pasar, mengingat ikatan emosional dan sosial ekonomi mereka dengan tanah itu,” ujar Nukila.

Ia menegaskan bahwa konsep ganti untung harus dihitung secara adil dengan mempertimbangkan bahwa Rusmawati dan warga lainnya lahir, besar, dan hidup di Pulau Rempang, serta memiliki keterikatan sejarah dan budaya yang tidak bisa diukur dengan nominal semata.

Lebih jauh, Nukila menyoroti dampak lanjutan dari penggusuran tersebut terhadap keberlangsungan hidup warga. “Nanti gimana bu Rusmawati membeli rumah atau tanah yang baru? Beliau perempuan, mungkin satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga. Ini harus jadi perhatian serius,” ungkapnya.

Nukila juga mendesak Komnas HAM dan Ombudsman RI untuk terus mengawal kasus ini agar proses pembebasan lahan dilakukan secara transparan dan adil, serta melibatkan musyawarah dengan masyarakat terdampak, bukan secara sepihak.

“Kepada bu Rusmawati, saya minta jangan menyerah. Ibu punya hak untuk meminta keadilan dan menolak jika tidak setuju dengan tawaran. Kalau perlu, ajukan keberatan secara hukum. Saya akan bantu mencarikan pendamping hukum untuk ibu,” pungkas Nukila dengan tegas.

Kasus ini mencerminkan konflik kepentingan antara pembangunan dan hak-hak masyarakat lokal, yang perlu diselesaikan dengan pendekatan manusiawi, partisipatif, dan bermartabat.

 

Facebook Comments Box

Kontributor : AWALLUDIN

Editor : TIM

Sumber Berita : Edysam

Berita Terkait

Tito Karnavian: Bahasa Indonesia Lahir dari Melayu, Museum di Penyengat Jadi Buktinya
Tugu Hutan Lindung Hilang, Mangrove Dapur 12 Rata Tanah
Usia Hanyalah Angka, Bukti Nyata Pak Fen Tje
Warga Tantang Kapolda Kepri Tutup Kasino Nagoya Game Zone
Tantang Kapolda Kepri, Berani Segel Super Star 21?
Polemik Memanas, SAS Joni Turun Gunung Selamatkan Pedagang Gurindam 12
Diduga Lalai dan Asal Periksa, Pelayanan RSUD Kota Tanjungpinang Dikeluhkan Keluarga Pasien
Ketua AJOI Lingga Soroti Dugaan Pengangkutan Pasir Timah Ilegal dari Singkep Barat.

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 13:10

Tito Karnavian: Bahasa Indonesia Lahir dari Melayu, Museum di Penyengat Jadi Buktinya

Rabu, 9 September 2026 - 18:30

Tugu Hutan Lindung Hilang, Mangrove Dapur 12 Rata Tanah

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:42

Usia Hanyalah Angka, Bukti Nyata Pak Fen Tje

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 16:33

Warga Tantang Kapolda Kepri Tutup Kasino Nagoya Game Zone

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:35

Tantang Kapolda Kepri, Berani Segel Super Star 21?

Berita Terbaru