CYBER NEWS INDONESIA , Kepri – Desa Pasir Panjang di Pulau Rempang kembali menjadi sorotan publik. Wilayah yang sebelumnya masuk dalam rencana pembangunan Rempang Eco-City sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) pada 2023 ini masih menyimpan berbagai persoalan sosial yang dirasakan masyarakat, khususnya kelompok lansia.
Nukila Evanty, Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA), yang baru-baru ini mengunjungi Desa Pasir Panjang untuk melepas rindu sekaligus melihat langsung kondisi masyarakat terdampak proyek tersebut.
Dalam kunjungannya, Nukila bertemu dengan Nek Amlah (107 tahun), warga tertua di desa itu yang dikenal gigih mempertahankan kampung halamannya. Pertemuan tersebut menjadi momen haru karena sudah cukup lama keduanya tidak bertemu sejak 2024 lalu.
Saat bertemu, Nek Amlah tampak memandang Nukila dengan raut wajah yang “lupa-lupa ingat” sambil berbicara dalam bahasa Melayu. Meski usianya telah lebih dari satu abad, ia masih menunjukkan hasil kerajinan tangannya dari daun pandan berupa tikar dan tudung saji. Bahkan, salah satu tudung saji tersebut diberikan kepada Nukila sebagai kenang-kenangan.
Dalam perbincangan tersebut, Nek Amlah menceritakan bahwa dirinya telah tinggal di Desa Pasir Panjang sejak tahun 1918. Ia mengenang masa ketika kawasan itu masih asri dengan hutan yang lebat dan kehidupan masyarakat yang tenang sebagai nelayan tradisional di pesisir.
Selain Nek Amlah, terdapat sekitar 23 warga lanjut usia lainnya di desa tersebut. Mereka menyampaikan kepada Nukila bahwa akses layanan kesehatan kini mulai membaik setelah tersedia satu fasilitas puskesmas di wilayah itu.
Namun demikian, persoalan lain masih menjadi kekhawatiran utama, terutama terkait kondisi rumah bantuan yang diterima Nek Amlah. Meski keluarga bersyukur atas adanya bantuan tersebut, rumah tersebut dinilai belum memenuhi standar hunian layak bagi lansia.
“Atap rumahnya belum selesai dan kondisinya belum aman bagi Nek Amlah yang tinggal sendiri,” ujar Nukila kepada wartawan Meteobatam.com melalui pesan WhatsApp, Selasa (10/03/2026).
Menurutnya, bantuan rumah yang diterima hanya sekitar Rp10 juta berdasarkan informasi dari pihak RT. Sementara untuk memperbaiki rumah yang dinilai tidak layak huni itu diperkirakan membutuhkan dana lebih dari Rp20 juta.
Nukila menilai rumah tersebut seharusnya memiliki lantai yang tidak licin, atap yang tidak bocor, serta pintu yang kokoh agar aman bagi lansia. Ia juga menyoroti kondisi toilet yang dinilai kurang layak karena ukurannya kecil dan tidak memiliki sekat pemisah yang memadai.
Kondisi kesehatan Nek Amlah juga menjadi perhatian. Menurut keterangan anak dan cucunya, Nek Amlah kini lebih sering terbangun pada malam hari untuk ke kamar mandi dan beberapa kali mengalami jatuh.
Melihat kondisi tersebut, Nukila meminta Pemerintah Kota Batam agar memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan lansia di wilayah tersebut, termasuk penyediaan alat bantu jalan seperti tongkat khusus atau kursi roda.
“Tidak semua orang tua mau menggunakan pampers. Akan lebih baik jika diberikan alat bantu jalan atau kursi roda agar beliau tidak mudah jatuh,” katanya.
Selain itu, Nukila juga merekomendasikan agar pemerintah menyediakan kendaraan darurat seperti ambulans di Desa Pasir Panjang. Menurutnya, fasilitas tersebut sangat penting untuk menangani keadaan darurat seperti warga sakit, kecelakaan, maupun kebutuhan persalinan bagi perempuan di desa tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya penyediaan vitamin atau suplemen kesehatan bagi para lansia. Dalam pertemuan tersebut, Nek Amlah juga sempat mengeluhkan nyeri pada tulang punggungnya.
Nukila menegaskan bahwa para lansia memiliki hak yang dijamin oleh negara, termasuk hak atas pelayanan kesehatan, jaminan sosial, kemudahan transportasi, hingga pelayanan mental dan spiritual.
“Negara, keluarga dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menghormati dan melindungi hak-hak lansia,” tegasnya.
Tidak hanya itu, Nukila juga menyoroti persoalan pendidikan anak-anak di kawasan tersebut. Menurutnya, jarak sekolah yang cukup jauh membuat anak-anak harus berjalan jauh setiap hari.
Ia berharap perhatian pemerintah tidak hanya terfokus pada program makan bergizi gratis, tetapi juga pada penyediaan transportasi dan fasilitas pendidikan yang memadai bagi anak-anak di Desa Pasir Panjang.
Dengan berbagai persoalan tersebut, Nukila berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap kondisi masyarakat Pasir Panjang agar pembangunan tidak mengabaikan aspek kemanusiaan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, perempuan, dan anak-anak.
Kontributor : AWALLUDIN
Editor : TIM
Sumber Berita : Nukila Evanty, Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA),
















