ECONOM NEWS
CYBER NEWS INDONESIA || KETAPANG – Di tengah arus modernisasi dan derasnya tantangan ekonomi, muncul satu kisah inspiratif dari Desa Tempurukan, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Sosok muda bernama Bang Roni, yang kini menjabat sebagai Kepala Divisi UMKM DPD Persatuan Orang Melayu (POM) Kabupaten Ketapang, tampil menjadi pelopor perubahan. Dengan penampilan sederhana dan topi hijau army khasnya, Bang Roni sukses mengelola usaha berbasis inovasi limbah pertanian, khususnya sekam padi, menjadi produk bernilai ekonomis tinggi.
Kisah perjuangan Bang Roni tidaklah instan. Ia dikenal sebagai pribadi visioner yang memiliki cara berpikir “out of the book”, tidak terpaku pada teori semata, namun berani mengambil langkah nyata. Sejak tahun 2019, ia merintis usaha bernama Depot Bibit Bang Roni yang awalnya fokus pada pembibitan tanaman. Namun pandemi COVID-19 membawa perubahan besar dalam arah usahanya. Ia mulai mengembangkan produk pupuk organik dari limbah pertanian, peternakan, hingga rumah tangga. Walau sempat menghadapi keraguan, termasuk dari pihak keluarga, Bang Roni membuktikan bahwa kerja keras dan keyakinan bisa mengubah pandangan banyak orang terhadap sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Kini, bersama kelompok usaha bersama (KUB) Betuah Raye Lestari yang telah memiliki legalitas hukum berupa akta notaris dan Nomor Induk Berusaha (NIB), Bang Roni terus memperluas dampak usahanya. Produk-produk yang mereka hasilkan didistribusikan oleh mitra bisnisnya, PT. Roni Bintang Virgo, dan telah tersebar luas di berbagai toko pertanian di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Berbekal prinsip kualitas sebagai prioritas utama, usahanya mampu menarik kepercayaan banyak konsumen setia, bahkan mahasiswa Politeknik Negeri Ketapang pun telah berkunjung langsung ke lokasi untuk belajar dan berdiskusi.
Produk-produk unggulan dari usaha ini meliputi arang sekam berkualitas tinggi bernama Biocard, pupuk Biomix+ yang merupakan kombinasi nutrisi organik, pupuk berbahan dasar kotoran sapi fermentasi, serta pupuk Biohara R1 dari limbah peternakan kambing. Seluruh produk tersebut telah lulus uji laboratorium di Universitas Tanjungpura Pontianak pada tahun 2021. Selain itu, satu produk baru berupa pupuk organik cair saat ini sedang dalam tahap pengembangan dan uji coba. Produk-produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai toko seperti Toko Paragon di Jl. H. Agus Salim, Toko Hasil Tani Sukaharja, Toko Ocha di BTN Gerbang Permata, hingga Toko Pertanian Barokah di Kayong Utara.
Usaha Bang Roni juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satu tokoh yang mendukung adalah Bang Lud, anggota DPRD Fraksi Golkar dari Kabupaten Kayong Utara, yang konsisten mendorong pertumbuhan UMKM di daerah. Meski telah menunjukkan kesuksesan yang signifikan, Bang Roni tetap berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang. Ia menilai bahwa dukungan berupa pelatihan, fasilitasi distribusi, dan regulasi yang sehat sangat diperlukan agar UMKM seperti miliknya bisa bertumbuh lebih besar dan berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya penertiban peredaran pupuk organik di Ketapang. Menurutnya, setiap produsen seharusnya memiliki legalitas yang sah dan hasil uji laboratorium agar masyarakat tidak menjadi korban dari produk-produk yang belum terstandar, serta agar pelaku UMKM dapat bersaing secara adil di pasar.
Terkait kiprah Bang Roni ini, Muhammad Jimi Rizaldi, A.Md., S.ST., M.T., MCE, Dosen Politeknik Negeri Ketapang dan Kepala Divisi Pendidikan & SDM DPD POM Kabupaten Ketapang, menyampaikan apresiasi atas upaya yang telah dilakukan. Menurutnya, langkah Bang Roni merupakan bentuk nyata dari edukasi masyarakat, terutama dalam bidang pertanian dan lingkungan. Inovasi ini, lanjutnya, sangat positif untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan para pelaku usaha kecil serta masyarakat desa agar mampu mengolah sumber daya lokal menjadi produk yang bermanfaat secara ekonomi dan ekologi.
Kisah Bang Roni membuktikan bahwa inovasi tidak harus selalu datang dari kota atau laboratorium canggih. Dari desa, dengan kemauan belajar, semangat pantang menyerah, dan dukungan komunitas, limbah pertanian seperti sekam padi pun bisa menjadi jalan untuk menciptakan perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang lebih baik.(CNI/Red)
Kontributor : Rusli
Editor : Tim
Sumber Berita : Liputan

















