CYBERNEWSIND | JOMBANG – Musim panen tembakau di Kabupaten Jombang terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga saat ini, luas tanaman tembakau yang telah dipanen mencapai 3.279,14 hektare atau sekitar 51,82 persen dari total luas tanam yang mencapai 6.327,70 hektare.
Proses panen masih berlangsung di sejumlah wilayah sentra tembakau. Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang terus melakukan pemantauan perkembangan panen di lapangan, termasuk memonitor kondisi tanaman dan pergerakan harga tembakau rajangan kering yang menjadi salah satu indikator penting bagi petani.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang Moch. Rony mengatakan, lebih dari separuh luasan tanaman tembakau saat ini sudah memasuki masa panen. Sementara sebagian lahan lainnya masih dalam proses pemanenan dan diperkirakan selesai secara bertahap hingga akhir September dan Oktober.
“Total luas tanam tembakau di Kabupaten Jombang seluas 6.327,70 hektare. Sedangkan luas panen sampai saat ini 3.279,14 hektare atau sekitar 51,82 persen,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Panen Berlangsung Bertahap
Menurut Rony, proses panen tembakau di Jombang memang berlangsung secara bertahap. Waktu panen setiap wilayah tidak selalu sama karena dipengaruhi kondisi tanaman dan masa tanam masing-masing petani.
Karena itu, Disperta terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan panen di berbagai sentra produksi.
Wilayah utara Sungai Brantas masih menjadi kawasan utama pertanaman tembakau di Kabupaten Jombang. Sedikitnya lima kecamatan menjadi sentra utama komoditas tersebut, yakni Plandaan, Ploso, Kabuh, Ngusikan, dan Kudu.
Masing-masing wilayah memiliki luasan tanaman sekaligus perkembangan panen yang berbeda.
Kabuh Jadi Sentra Terluas
Kecamatan Kabuh menjadi salah satu sentra utama sekaligus wilayah dengan luas tanam tembakau terbesar di Kabupaten Jombang.
Total luas tanam tembakau di Kecamatan Kabuh mencapai sekitar 2.633 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 922 hektare telah memasuki masa panen.
Proses panen di wilayah tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober.
Besarnya luasan tanaman tembakau di Kabuh menunjukkan posisi strategis wilayah tersebut dalam menopang produksi tembakau Jombang.
Dengan masih berlangsungnya panen, pemerintah daerah terus memantau perkembangan di lapangan agar kondisi tanaman dan hasil produksi dapat terpantau dengan baik.
Ploso dan Plandaan Terus Dipantau
Selain Kabuh, Kecamatan Ploso juga menjadi salah satu kawasan dengan luasan tanaman tembakau yang cukup besar.
Luas tanam tembakau di Kecamatan Ploso mencapai sekitar 1.350 hektare. Sementara proses panen di wilayah tersebut masih berlangsung.
Kecamatan Plandaan juga menjadi salah satu sentra penting. Luas tanam tembakau di wilayah ini mencapai 991,33 hektare, dengan luas panen sementara sekitar 297,40 hektare.
Panen tembakau di Kecamatan Plandaan diperkirakan dapat diselesaikan pada awal Oktober.
Perbedaan waktu penyelesaian panen tersebut menunjukkan bahwa musim panen tembakau di Jombang berlangsung secara bertahap dan tidak serentak di seluruh wilayah.
Ngusikan dan Kudu Mulai Mendekati Penyelesaian
Sementara itu, perkembangan panen di Kecamatan Ngusikan dan Kudu juga terus berjalan.
Di Kecamatan Ngusikan, luas tanam tembakau mencapai 328,37 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 262,696 hektare telah dipanen.
Dengan capaian tersebut, panen di Kecamatan Ngusikan diperkirakan dapat selesai pada akhir September.
Sedangkan Kecamatan Kudu memiliki luas tanam sekitar 1.025 hektare. Luas panen yang telah terealisasi mencapai sekitar 718 hektare.
Panen di Kecamatan Kudu juga diperkirakan rampung pada akhir September.
“Prosentase panen keseluruhan saat ini 51,82 persen di Kabupaten Jombang,” kata Rony.
Harga Tembakau Masih Cukup Positif
Di tengah berlangsungnya musim panen, kabar positif juga datang dari sisi harga tembakau rajangan kering.
Harga di tingkat petani saat ini berada pada kisaran Rp42 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.
Namun, harga yang diterima petani dapat berbeda-beda karena dipengaruhi kualitas tembakau, proses perajangan, penggunaan gula, serta kondisi permintaan dari pabrik.
“Harga rajangan Rp42 ribu sampai Rp50 ribu, tergantung campur gula apa tidak, juga tergantung permintaan pabrik,” terang Rony.
Kondisi harga tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah di tengah berlangsungnya musim panen.
Pemantauan terhadap perkembangan harga penting dilakukan karena harga jual menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan hasil yang diterima petani setelah melalui seluruh proses budidaya.
Disperta Pantau Perkembangan Petani
Dengan luas tanam mencapai lebih dari 6.300 hektare, musim tembakau menjadi salah satu momentum penting bagi sektor pertanian Jombang.
Disperta Jombang terus mengikuti perkembangan musim panen di berbagai wilayah sentra. Pendataan luasan panen menjadi bagian penting untuk mengetahui perkembangan produksi sekaligus memetakan kondisi pertanian tembakau di daerah.
Pemantauan tersebut juga menjadi bahan pemerintah dalam melihat perkembangan komoditas tembakau dari waktu ke waktu.
Tidak hanya terkait luas panen, kondisi tanaman dan harga juga menjadi bagian yang diperhatikan selama musim panen berlangsung.
Dengan demikian, pemerintah daerah memiliki gambaran mengenai perkembangan komoditas tembakau mulai dari masa tanam hingga panen.
Potensi Tembakau Jombang Terus Dijaga
Besarnya luasan tanaman tembakau di sejumlah kecamatan menunjukkan bahwa komoditas ini masih memiliki peran penting bagi aktivitas ekonomi petani di Jombang.
Sentra-sentra tembakau di wilayah utara Sungai Brantas menjadi bagian penting dalam menopang produksi tembakau daerah.
Dinas Pertanian pun terus mendorong agar potensi tersebut dapat dikelola dengan baik, sembari memastikan perkembangan musim panen tetap terpantau.
Dengan lebih dari separuh tanaman telah dipanen dan sebagian lainnya masih memasuki masa panen, musim tembakau Jombang diperkirakan masih akan berlangsung hingga Oktober.
Pemerintah daerah berharap seluruh rangkaian panen dapat berjalan lancar sehingga petani memperoleh hasil yang optimal.
Perkembangan harga yang berada di kisaran Rp42 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram juga menjadi kabar yang cukup menggembirakan bagi petani, meskipun harga akhir tetap bergantung pada kualitas hasil rajangan dan permintaan pasar.
Dengan pemantauan yang terus dilakukan, Disperta Jombang berupaya memastikan perkembangan musim tembakau tetap terdata dan terpantau. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga sektor pertanian sekaligus mendukung aktivitas ekonomi petani tembakau di Kabupaten Jombang.
(*) (BRT)
















